Selasa, 09 Oktober 2012

10 TOKOH PENDIDIKAN DI INDONESIA DAN DUNIA



1)      Ki Hajar Dewantara (1889 - 1959)
2)      Max Weber (1864)
3)      John Locke (28 Agustus 1632 - 28 Oktober 1704)
4)      Ibnu Khaldun (1332 - 1406)
5)      William James (1842 - 1910)
6)      John Dewey (1859 - 1952)
7)      El Throndike (1874 - 1949)
8)      Wilhem Wundt (1832 - 1920)
9)      Sigmand Frued (1856 - 1939)
10)  Jean Piaget (1896 - 1980)

10 TOKOH MATEMATIKA/ALJABAR/ARITMATIKA



1)      Al Khawarizmi
2)      Abdul Wafa Al Busjani
3)      Rene Des Kartes (1596 - 1650)
4)      Leonhard Euler (1707 - 1783)
5)      John Napier (1550 - 1617)
6)      Carl F. Gauss (1777 - 1855)
7)      Ibnu Sina (Eveciena) (980 - 1037)
8)      Al Farabi (870 - 950)
9)      Pierre Simon Laplace
10)  Thales (624 - 550 SM)
11)  Phytagoras (582 - 496 SM)
12)  Ecluides (325 - 265 SM)
13)  Archimedes (287 - 212 SM)
14)  Diophantus (250 - 200 SM)

15 TOKOH YANG MEMILIKI KECERDASAN GANDA DALAM BIDANG MUSIKAL



1)      Elvis Aaron Presley (1935 - 1977)
2)      Jhon Winston Lennon (1940 - 1980)
3)      Brian Jones (1942 - 1969)
4)      James Pougles Morri Son (1943 - 1971)
5)      Bill Hatey (1925 - 1981)
6)      Marc Bolan (1947 - 1977)
7)      Robert Nesta Marley (1945 - 1981)
8)      Buddy Holly (1936 - 1959)
9)      Gene Vincent (1935 - 1971)
10)  Janis Joplin (1943 - 1970)
11)  Jimi Hendrix (1942 - 1970)
12)  Keith Moon (1949 - 1978)
13)  Maruin Gaye (1939 - 1984)
14)  Karen Carpenter (1750 - 1983)
15)  John Baverley (1957 - 1979)

10 TOKOH YANG MEILIKI KECERDASAN GANDA DALAM BIDANG INSTRUMENTAL



1)      Franz Joseph Haydn (31 Maret atau 1 April 1732 - 31 Mei 1809)
2)      Goerge Frederick Handel (23 Februari 1685 - 14 April 1759)
3)      Sergei Rachmaninou (1 April 1873 - 28 Maret 1943)
4)      Peter Ilyich Tchaikousky (7 Mei 1840 - 6 November 1893)
5)      Gustav Mahler (7 Juli 1860 - 18 Mei 1991)
6)      Giuseppe Verdi (18 Oktober 1813 - 27 Januari 1901)
7)      Johannes Brahms (7 Mei 1833 - 3 April 1897)
8)      Franz Liszt (22 Oktober 1811 - 31 Juli 1886)
9)      Frederic Chopin (1 Maret 1810)
10)  Robert Schumann (8 Juni 1810 - 29 Juli 1856)

MACAM – MACAM PENDEKATAN PEMBELAJARAN



            Ada beberapa macam pendekatan pembelajaran yang digunakan pada kegiatan belajar    mengajar, antara lain :
1.      Pendekatan Kontekstual
Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi, yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan – memberdayakan siswa, bukan mengajar siswa(http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/).
Borko dan Putnam mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual,
guru memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi siswa dengan cara mengaitkan
pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana anak hidup dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam masyarakatnya (http.//www.contextual.org.id). Pemahaman, penyajian ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang ada dalam materi dikaitkan dengan apa yang dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan sehari-hari (Dirjen Dikdasmen, 2001: 8). Dengan memilih konteks secara tepat, maka siswa dapat diarahkan kepada pemikiran agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan kelas saja, tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka, dan lingkungan masyarakat luas.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan dari hasil “menemukan sendiri” dan bukan dari “apa kata guru.
Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk
mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk
mengembangkan sikap, nilai, serta kreativitas siswa dalam memecahkan masalah
yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi dengan sesama
teman, misalnya melalui pembelajaran kooperatif, sehingga juga mengembangkan
ketrampilan sosial (social skills) (Dirjen Dikmenum, 2002:6). Lebih lanjut Schaible,
Klopher, dan Raghven, dalam Joyce-Well (2000:172) menyatakan bahwa pendekatan kontekstual melibatkan siswa dalam masalah yang sebenarnya dalam penelitian dengan menghadapkan anak didik pada bidang penelitian, membantu mereka mengidentifikasi masalah yang konseptual atau metodologis dalam bidang penelitian dan mengajak mereka untuk merancang cara dalam mengatasi masalah.
2.      Pendekatan Konstruktivisme
Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba(Suwarna,2005).
 Piaget (1970), Brunner dan Brand 1966), Dewey (1938) dan Ausubel (1963). Menurut Caprio (1994), McBrien Brandt (1997), dan Nik Aziz (1999)  kelebihan teori konstruktivisme ialah pelajar berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar.
Menurut teori konstruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru. Rumelhart dan Norman (1978) menjelaskan seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali sebagai accretion. Selain itu, konsep-konsep yang ada pada seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaran atau tuning. Seseorang juga boleh membina konsep-konsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan analogi, iaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya. Menurut Gagne, Yekovich, dan Yekovich (1993) konsep baru juga boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang sedia ada pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing.
Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam proses pembelajaran kerana belajar digalakkan membina konsep sendiri dengan menghubungkaitkan perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang sedia ada pada mereka. Dalam proses ini, pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sesuatu masalah.
Kajian Sharan dan Sachar (1992, disebut dalam Sushkin, 1999) membuktikan kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan konstruktivisme telah mendapat pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan berbanding kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan tradisional. Kajian Caprio (1994), Nor Aini (2002), Van Drie dan Van Boxtel (2003), Curtis (1998), dan Lieu (1997) turut membuktikan bahawa pendekatan konstruktivisme dapat membantu pelajar untuk mendapatkan pemahaman dan pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan.

3.      Pendekatan Deduktif – Induktif
a.       Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya(Suwarna,2005).
b.      Pendekatan Induktif
Ciri uatama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi dilingkungan.
Prince dan Felder (2006) menyatakan pembelajaran tradisional adalah pembelajaran dengan pendekatan deduktif, memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Di bidang sain dan teknik dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama mahasiswa, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan. Bransford (dalam Prince dan Felder, 2006) melakukan penelitian dibidang psikologi dan neurologi. Temuannya adalah: ”All new learning involves transfer of information based on previous learning”, artinya semua pembelajaran baru melibatkan transfer informasi berbasis pembelajaran sebelumnya.
Major (2006) menyatakan dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif dimulai dengan menyajikan generalisasi atau konsep. Dikembangkan melalui kekuatan argumen logika. Contoh urutan pembelajaran: (1) definisi disampaikan; dan (2) memberi contoh, dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan siswa dengan maksud untuk menguji pemahaman siswa tentang definisi yang disampaikan.
Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan pembelajaran pendekatan deduktif adalah dengan pendekatan induktif . Beberapa contoh pembelajaran dengan pendekatan induktif misalnya pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis kasus, dan pembelajaran penemuan. Pembelajaran dengan pendekatan induktif dimulai dengan melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan menginterpretasikannya, menganalisis kasus, atau memberi masalah konstekstual, siswa dibimbing memahami konsep, aturan-aturan, dan prosedur-prosedur berdasar pengamatan siswa sendiri.
Major (2006) berpendapat bahwa pembelajaran dengan pendekatan induktif efektif untuk mengajarkan konsep atau generalisasi. Pembelajaran diawali dengan memberikan contoh-contoh atau kasus khusus menuju konsep atau generalisasi. Siswa melakukan sejumlah pengamatan yang kemudian membangun dalam suatu konsep atau geralisasi. Siswa tidak harus memiliki pengetahuan utama berupa abstraksi, tetapi sampai pada abstraksi tersebut setelah mengamati dan menganalisis apa yang diamati.
Dalam fase pendekatan induktif-deduktif ini siswa diminta memecahkan soal atau masalah. Kemp (1994: 90) menyatakan ada dua kategori yang dapat dipakai dalam membahas materi pembelajaran yaitu metode induktif dan deduktif. Pada prinsipnya matematika bersifat deduktif. Matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif. Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran “yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus” Soedjadi (2000: 16). Dalam kegiatan memecahkan masalah siswa dapat terlibat berpikir dengan dengan menggunakan pola pikir induktif, pola pikir deduktif, atau keduanya digunakan secara bergantian.
4.      Pendekatan Konsep dan Proses
a.       Pendekatan Konsep
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep. (http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/).
b.      Pendekatan Proses
Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar. (http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/).
Dalam pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap proses yang berlangsung dalam pendidikan. Pertama, proses mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian integral dari diri peserta didik; bukan lagi potongan-potongan pengalaman yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri. Dengan demikian, pendidikan mengejawantah dalam diri peserta didik dalam setiap proses pendidikan yang dialaminya (http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/1907).
5.      Pendekatan Sains, Tekhnologi dan Masyarakat
National Science Teachers Association (NSTA) (1990 :1)memandang STM sebagai the teaching and learning of science in thecontext of human experience. STM dipandang sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Dalam pendekatan ini siswa diajak untuk meningkatakan
kreativitas, sikap ilmiah, menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari.Definisi lain tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE(2006:1) bahwa STM merupakan an interdisciplinary approach whichreflects the widespread realization that in order to meet the increasingdemands of a technical society, education must integrate acrossdisciplines. Dengan demikian, pembelajaran dengan pendekatan STMharuslah diselenggarakan dengan cara mengintegrasikan berbagaidisiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yangterjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik, tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalampengembangan pembelajaran di era sekarang ini.
Pandangan tersebut senada dengan pendapat NC State University (2006: 1), bahwa STM merupakan an interdisciplinery field of study that seeks to explore a understand the many ways that scinence and technology shape culture, values, and institution, and how such factors shape science and technology. STM dengan demikian adalah sebuah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sains dan teknologi masuk dan merubah proses-proses sosial di masyarakat, dan bagaimana situasi sosial mempengaruhi perkembangan sains dan teknologi.
Hasil penelitian dari National Science Teacher Association ( NSTA ) ( dalam Poedjiadi, 2000 ) menunjukan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa. Perbedaan tersebut ada pada aspek : kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari, yang dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah (ilmiahhttp://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/).

Sumber :
1.      Abdul Rahim Rashid. (1998). Ilmu Sejarah: Teori dan amalan dalam pengajaran dan pembelajaran Sejarah. Kertas kerja yang dibentangkan dalam Simposium Sejarah, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 30–31 Oktober.
2.      2.Anwar. (2004). Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Bandung: Penerbit Alfabeta.
3.      3. Ausubel, D. P. (1963). The psychology of meaningful verbal learning. New York: A Grune & Stratton Inc.
4.        Bybee, R. W. (1993). Leadership, responsibility and reform in science education. Science Educator, 2,1–9.
5.      Depdiknas. (2002). Pengembangan Pelaksanaan Broad-Based Education, High-Based Education, dan Life Skills di SMU. Jakarta: Depdiknas.
6.      Firdaus M Yunus. (2004). Pendidikan Berbasis Realitas Sosial, Paulo freire-Y.BMangunwijaya. Yogyakarta: Logung Pustaka
Sebagai guru profesional saya harus berprinsip bahwa tidak ada manusia yang dilahirkan dalam keadaan bodoh, kalau ada peserta didik yang belum paham atau tidak mengerti apa yang saya sampaikan berarti saya belum menemukan cara atau metode yang tepat untuk siswa tersebut. Saya akan melakukan pendekatan-pendekatan kepada siswa dan orang tuanya supaya saya tahu lebih banyak dan mendalam tentang siswa tersebut

Makalah PLS


BAB I
PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
Pendidikan luar sekolah sebenarnya bukanlah barang baru dalam khasanah budaya dan peradaban manusia. Pendidikan luar sekolah telah hidup dan menyatu di dalam kehidupan setiap masyarakat jauh sebelum muncul dan memasyarakatnya sistem persekolahan. PLS mempunyai bentuk dan pelaksanaan yang berbeda dengan sistem yang sudah ada di pendidikan persekolahan. PLS timbul dari konsep pendidikan seumur hidup dimana kebutuhan akan pendidikan tidak hanya pada pendidikan persekolahan/pendidikan formal saja. PLS pelaksanaannya lebih ditekankan kepada pemberian keahlian dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu.
Sejalan dengan kepentingan dan masa depan anak-anak, maka orang tua hendaklah menyekolahkan mereka dan karena pendidikan di sekolah termasuk rangkaian pendidikan seumur hidup. Sistem pendidikan di sekolah yang teratur, sistematis, dan berjenjang sangat strategis untuk membina peserta didik dalam menghadapi masa-masa selanjutnya, sampai peserta didik tersebut berusia lanjut
Proses pendidikan seumur hidup bagi anak hendaknya menekan pada strategi dan metodologi yang dapat menanamkan motivasi belajar dan kepribadian belajar yang kuat. Program kegiatan disusun mulai peningkatan kecakapan baca tulis, ketrampilan dasar yang mempertinggi daya pikir anak sehingga memungkinkan anak terbiasa untuk belajar , berpikir kritis  dan mempunyai pandangan hidup yang dicita-citakan.
    1. Batasan masalah
Adapun batasan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Pengertian  Pendidikan Luar Sekolah (PLS)
  2. Pendidikan Luar Sekolah yang ada dalam masyarakat
  3. Sasaran Pendidikan Luar Sekolah
  4. Tujuan Pendidikan Agama Luar Sekolah
BAB II
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS)
  1. Pengertian pendidikan luar sekolah (PLS)
Sebelum membicarakan pengertian Pendidikan Luar Sekolah, pemakalah menyajikan beberapa rumusan sebagai berikut:
1.      Menurut Soeleman Joesoef dan Slamet Santoso Pendidikan Luar Sekolah adalah Setiap kesempatan di mana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkat ketrampilan, sikap  dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.
2.      Phillips H. Combs, mengungkapkan bahwa pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Luar Sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang diselenggarakan di luar sistem sekolah baik yang dilembagakan  maupun yang tidak dengan tujuan memberikan layanan kepada peserta didik dalam rangka mencapai tujuan belajar. Sedangkan Pendidkan Agama Luar Sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan agama yang diselenggarakan di luar sistem sekolah dengan tujuan untuk memberikan pelayanan pada peserta didik untuk memehami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pedoman hidup (way of life) dalam kehidupan sehari-hari.



  1. Pendidikan Luar Sekolah yang ada dalam masyarakat
Jenis-jenis pendidikan yang ada pada Pendidikan Luar Sekolah menurut D. Sudjana (1996:44) di antaranya adalah:
  1. Pendidikan Massa (Mass education)
Pendidikan massa yaitu kesempatan pendidikan yang diberikan kepada masyarakat luas dengan tujuan yaitu membantu masyarakat agar mereka memiliki kecakapan dalam hal menulis, membaca dan berhitung serta berpengetahuan umum yang diperlukan dalam upaya peningkatan taraf hidup dan kehidupannya sebagai warga negara. Istilah Mass education menunjukan pada aktifitas pendidikan di masyarakat yang sasarannya kepada individu-individu yang mengalami keterlantaran pendidikan, yaitu individu yang tidak berkesempatan memperoleh pendidikan melalui jalur sekolah, tetapi putus di tengah jalan dan belum sempat terbebas dari kebuta-hurufan. Mass education ini dapat dikatakan semacam program pemberantasan buta huruf atau program keaksaraan, tentu saja tidak bertujuan supaya orang-orang didiknya sekedar bisa baca-tulis, tetapi juga supaya memperoleh pengetahuan umum yang relevan bagi keperluan hidupnya sehari-hari. Individu yang menjadi sasarannya adalah pemuda-pemuda dan orang dewasa. Pelaksanaannya melalui kursus-kursus.
  1. Pendidikan Orang Dewasa (Adult Education)
Pendidikan orang dewasa yaitu pendidikan yang disajikan untuk membelajarkan orang dewasa. Dalam salah satu bukunya tentang PLS, Sudjana (1996:45) menerangkan bahwa pendidikan orang dewasa adalah pendidikan yang diperuntukan bagi orang-orang dewasa dalam lingkukangan masyarakatnya, agar mereka dapat mengembangkan kemampuan, memperkaya pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknik dan profesi yang telah dimilikinya, memperoleh cara-cara baru serta merubah sikap dan perilakunya.


  1. Pendidikan Perluasan (Extension Education)
Kegiatan yang diselenggarakan PLS adalah meliputi seluruh kegiatan pendidikan baik yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan sekolah yang dilembagakan ataupun yang tidak dilembagakan.
  1. Sasaran pendidikan luar sekolah
Dibagi 2 sasaran pokok:
1.    Pendidikan luar sekolah untuk pemuda
              Sebab-sebab timbulnya:
  1. Banyak anak-anak usia sekolah tidak memperoleh pendidikan sekolah yang cukup, lebih-lebih di negara yang berkembang
  2. Mereka memperoleh pendidikan yang tradisional
  3. Mereka memperoleh latihan kecakapan khusus melalui pola-pola pergaulan
  4. Mereka dituntut mempelajari norma-norma dan tanggung jawab sebagai sangsi dari masyarakatnya
1.    Kelompok-kelompok kegiatan pendidikan Luar Sekolah antara lain:
1.      Klub pemuda
2.      Klub-Klub pemuda tani
3.      Kelompok pergaulan
  1. Pendidikan luar sekolah untuk orang dewasa
§   Pendidikan ini timbul oleh karena:
1.      Orang-orang dewasa tertarik terhadap profesi kerja.
2.      Orang dewasa tertarik terhadap keahlian.




§   Dalam rangka memperoleh pendidikan di atas dapat ditempuh melalui:
  1. Kursus-kursus pendek.
  2. In service-training.
  3. Surat-menyurat.
Lebih lanjut, sesuai dengan Rancangan Peraturan Pemerintah maka sasaran PLS dapat meliputi:
  1. Ditinjau dari segi sasaran pelayanan, berupa:
    1. Usia pra-sekolah (0-6 tahun)
    2. Usia pendidikan dasar (7-12 tahun)
    3. Usia pendidikan menengah (13-18 tahun)
    4. Usia pendidikan tinggi (19-24 tahun)
  2. Ditinjau dari jenis kelamin
Program ini secara tegas diarahkan pada kaum wanita oleh karena jumlah mereka yang besar dan partisifasinya kurang dalam rangka produktifitas dan efesiensi kerja.
  1. Berdasarkan lingkungan sosial budaya
  1. Masyarakat pedesaan.
  2. Masyarakat perkotaan.
  3. Masyarakat terpencil.
  1. Berdasarkan kekhususan sasaran Pelajaran
  1. Peserta didik yang dapat digolongkan terlantar, seperti anak yatim piatu.
  2. Peserta didik yang mengalami pengembangan sosial dan emosional seperti anak nakal, korban narkotika dan wanita tuna susila.
  3. Peserta yang mengalami cacat mental dan cacat tubuh seperti tuna netra, tuna rungu, tuna mental.
  4. Peserta didik yang karena berbagai sebab sosial, tidak dapat mengikuti program pendidikan persekolahan.
  1. Berdasarkan pranata
  1. Pendidikan keluarga.
  2. Pendidikan perluasan wawasan.
  3. Pendidikan keterampilan.
  1. Berdasarkan sistem pengajaran
  1. Kelompok, organisasi, dan lembaga.
  2. Mekanisme sosial budaya seperti perlombaan dan pertandingan.
  3. Kesenian tradisional, seperti wayang, ludruk, ataupun teknologi modern seperti televisi, radio, film, dan sebagainya.
  4. Prasarana dan sarana seperti balai desa, mesjid, gereja, sekolah dan alat-alat perlengkapan kerja.
  1. Berdasarkan segi pelembagaan program
  1. Program antar sektoral dan swadaya masyarakat seperti PKK, PKN dan P2WKSS.
  2. Koordinasi perencanaan desa atau pelaksanaan program pembangunan.
  3. Tenaga pengarahan di tingkat pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa.

  1. Tujuan Pendidikan Agama Luar Sekolah

Pendidikan agama luar sekolah mempunyai dua macam tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
a. Tujuan Umum:
1) Memperluas keikut sertaan masyarakat dalam pemerataan kesempatanbelajar dan meningkatkan mutu warga masyarakat melalui pendidikan.
2) Meningkatkan proses belajar mengajar untuk mencapai daya guna dan hasil yang optimal.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus adalah mempersiapkan warga masyarakat untuk mengembangkan diri pribadinya atau untuk memperoleh kesempatan kerja yang lebih besar .  
Dari dua tujuan di atas, maka pendidikan luar sekolah bertujuan untuk memberikan kesempatan yang luas untuk bekerja kepada anggota masyarakat, juga melatih dan mengembangkan secara kualifikasi pengetahuan kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh peserta didik dalam penyelesaian suatu program pengajaran.
Selanjutnya telah digariskan dalam A-Qur'an, bahwa tujuanpendidikan agama adalah tujuan hidup manusia itu sendiri, seperti digambarkan dalam Al-Qur'an
    1. Surat Adz-Dzariyat : 56: Artinya: "Tiadalah aku jadikan jin dan manusia melainkan supaya merekamenyembah-Ku". (Al Dzariyat:56)
    2.  "Hai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allahdengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekalikalikamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam". (AlImran : 102)
    3.  "Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu ke kudukengkau dan jangan pula engkau melepaskan selepas-lepasnya,nanti engkau tercela dan menyesal. (jangan bakhil dan janganpemboros)". (Al Isra' : 29)
4. "Maka apabila telah ditunaikan sembahyang, bertebarlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia (rezeki) Allah dang ingatlahakan Allah sebanyak banyaknya, mudah-mudahan kamumenang (sukses)". (Al Jum'ah : 10)









BAB III
PENUTUP
    1. Kesimpulan
Pendidikan luar sekolah mempunyai bentuk dan pelaksanaan yang berbeda dengan sistem yang sudah ada di pendidikan sekolah. Pendidikan luar sekolah timbul dari konsep pendidikan seumur hidup dimana kebutuhan akan pendidikan tidak hanya pada pendidikan persekolahan/pendidikan formal saja. Pendidikan luar sekolah pelaksanaannya lebih ditekankan kepada pemberian keahlian dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu. Pembinaan dan pengembangan PLS dipandang relevan untuk bisa saling mengisi atau topang menopang dengan sistem persekolahan. Agar setiap lulusan bisa hidup mengikuti perkembangan zaman dan selalu dibutuhkan oleh masyarakat seiring dengan perkembangan IPTEK yang semakin maju.

    1. Saran
Di samping kita mengikuti jenjang pendidikan formal alangkah baiknya dilengkapi dengan mengikuti pendidikan luar sekolah seperti kursus-kursus, dll. Agar kekurangan/kelemahan yang ada pada pendidikan formal bisa tertutupi dengan pendidikan luar sekolah sehingga diharapkan setiap lulusan bisa hidup mengikuti perkembangan zaman dan selalu dibutuhkan oleh masyarakat seiring dengan perkembangan/kemajuan IPTEK.

DAFTAR PUSTAKA
Joesoef Soelaiman, 2004, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Kurdie Syuaeb, 2002, Pendidikan Luar Sekolah. Cirebon: CV. Alawiyah.
Faisal Sanapiah, 1981, Pendidikan Luar Sekolah . Surabaya: CV. Usaha Nasional.